Peringatan Resolusi Jihad, Momentum Hadapi MEA
UMUM | 23 Nov 2015
Jatim Newsroom- Sekretaris Daerah Jawa Timur, H Akhmad Sukardi mengatakan peringatan resolusi jihad merupakan momentum untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Jika dahulu Jihad mengusir penjajah, maka konteks saat ini adalah berdaulat dalam bidang ekonomi, politik dan pendidikan.
“Tantangan saat ini yang harus dihadapi dalam semangat jihad adalah menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), untuk membuka koridor baru yang harus dipetik manfaatnya oleh Jawa Timur. Karenanya, tuntutan untuk menajadi super koridor adalah tuntutan globalisasi, “katanya dalam peringatan 70 Tahun Resolusi Jihad yang diadakan Museum NU, Minggu (23/11).
Ia menjelaskan dengan semangat resolusi jihad tersebut, Jawa Timur bertekad menjadi basis perdagangan, industri dan investasi dan tenaga kerja ahli. Disisi lain, Jatim juga harus membangun regulasi yang memihak pada pelayanan publik.
Lebih lanjut ia menambahkan, upaya-upaya Jatim dalam menghadapi MEA 2015, diantaranya membangun SMK Mini, membuat dan memperkuat perwakilan perdagangan antar pulau dan membuat basis ekonomi dalam negeri. “Hal tersebut merupakan bentuk nasionalisme baru di era perdagangan bebas saat ini,” ujarnya.
Direktur Museum NU, Muhibbin Zuhri mengatakan kegiatan peringatan resolusi jihad tersebut dimaksudkan untuk mengajak para pemuda di Jawa Timur merevitalisasi semangat resolusi jihad di era reformasi guna bersama-sama mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dalam membangun bangsa.
“Revitalisasi jihad perlu dikobarkan kembali, misalnya dengan mendesak para penyelenggara Negara untuk meninjau kembali reformasi yang, ternyata, tidak membikin ketatanegaraan kita semakin baik, tetapi justru sebaliknya semakin buruk, “tegas Muhibbin yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Surabaya.
Ia menjelaskan kegiatan tersebut juga bertujuan dari kegiatan Napak Tilas Resolusi Jihad ini memunculkan kembali kesadaran terhadap peranan besar resolusi jihad di bulan Oktober 1945 dan berupaya untuk berpartisipasi dalam pelestarian nilai-nilai sejarah.
Sementara itu, pengamat sejarah sekaligus inisiator Museum NU, Choirul Anam meminta NU menjaga dan melestarikan cagar budaya peninggalan resolusi jihad, agar tetap menjadi bukti untuk generasi yang akan datang tentang nasionalisme para ulama era revolusi perjuangan di Surabaya.
Menurutnya, NU harus melestarikan cagar budaya peninggalan para ulama seperti halnya gedung markas besar ulama di sekitar Waru Sidoarjo. “Dulu di sekitar Waru ada MBO (Markas Besar Oelama) tempat berkumpulnya para ulama yang diupimpin Mbah Wahab (KH Wahab Chasbullah) untuk perjuangan 10 November 1945 , Mbah Wahab yang mengkoordinir Kiai-kiai sepuh disitu,“ jelasnya.
Kegiatan ini juga diisi orasi kebangsaan yang menampilkan budayawan nasional, KH Zawawi Imron dan dihadiri oleh sekitar 500 kalangan pemuda Nahdliyin yang tergabung dalam Bina Pemuda Jawa Timur dan ormas Nahdhiyah Cinta Indonesia (NCI). (luk)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar