Minggu, 06 Desember 2015

MWC Nahdlatul Ulama Kec.Rungkut - Surabaya .


Pengakuan Ini Harus Diamankan  .






 

 

 


SURABAYA – Mengenang  kembali  peristiwa  bersejarah  munculnya Resolusi Jihad, Museum Nahdlatul Ulama Sabtu Malam (21/11) menggelar Napak tilas Resolusi Jihad yang dihadiri ratusan warga Nahdliyin.

Resolusi yang didasari oleh Fatwa Jihad KH Hasyim Asyari 70 tahun silam, tepatnya tanggal pada tanggal 21-22 Oktober  1945 terbukti dapat memberikan kontribusi besar bagi perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan Kota Surabaya dari serangan Sekutu yang kemudian dikenal dengan 10 Nopevenber, Hari Pahlawan.

Kegiatan Napak Tilas ini hadiri sejumlah tokoh NU, Sekda Provinsi Jatim dan ratusan warga nahdliyin yang bertempat di halaman Museum Nahdlatul Ulama, Jalan Gayungsari, Surabaya.

Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengajak pada seluruh lapisan masyarakat di Indonesia guna  merevitalisasi  semangat  Resolusi Jihad di era reformasi dengan bersama-sama  mengedepankan nilai-nilai kebangsaan.

“Revitalisasi jihad perlu dikobarkan kembali, misalnya dengan mendesak para penyelenggara negara untuk meninjau kembali  reformasi  yang  ternyata  tidak  membikin  ketatanegaraan  kita semakin baik, tetapi justru sebaliknya semakin buruk,“ tegas  Dr  Muhibbin  Zuhri  Direktur  Museum  Nahdlatul  Ulama Surabaya.

Selain itu, Muhibbin Zuhri yang juga menjabat Ketua PCNU Surabaya ini menambahkan bahwa kegiatan tersebut  untuk memunculkan  kembali  kesadaran terhadap peran besar  Resolusi  Jihad  di bulan  Oktober  dan November 1945  serta berupaya  untuk berpartisipasi dalam pelestarian nilai-nilai sejarah.

Sementara MH Rofiq, Ketua Yayasan Bina Pemuda mengatakan, bahwa, peringatan Resolusi Jihad seperti ini memiliki makna yang luar biasa. Menurut Cak Rofiq, pangilan akrabnya, peristiwa 10 November 1945, tidak bisa dipisahkan dengan resolusi jihad. “Sejarah ini tidak boleh dilupakan. Selama ini Resolusi Jihad seakan terpenggal dalam sejarah nasional,” kata mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ini.

Penulisan sejarah nasional selama ini, juga dikritisi Dewan Kurator Museum NU, Drs H Choirul Anam. Menurut Cak Anam, panggilan akbranya, selama ini pemerintah tidak pernah mencatat atau mengakui resolusi jihad dan perjuangan para ulama NU. Baru pada era pemerintahan Jokowi-JK ini, ada penetapan Hari Santri Nasional (HSN).

“(Pengakuan red.) ini harus kita pegang dan kita simpan dalam Museum NU. Sebagaimana sambutan Gubernur Jawa Timur yang dibacakan Pak Kardi (Sukardi, Sekdaprov red.) tadi, ini merupakan pengakuan pemerintah,” kata Cak Anam yang dikenal sebagai sejarawan NU.

Peringatan 70 Tahun Resolusi Jihad kemarin, dimulai dengan pembacaan narasi sejarah Resolusi Jihad NU dan dilanjutkan dengan  orasi  budaya  yang  menampilkan  budayawan  clurit  emas asal Madura, KHZawawi Imron dan Sejarawan Nahdlatul Ulama Drs. H. Choirul Anam.
Selanjutnya hari Minggu pagi ini, (22/11/2015)  akan  dilakukan  Napak  Tilas  menuju Pondok  Pesantren Tebuireng  Jombang  untuk  berziarah  ke  makam  para  pencetus  Resolusi  Jihad  yaitu KH Hasyim As’ary dan dan diteruskan  ke  Pondok  Pesantren Tambakberas, berziarah ke makam KH Wahab Chasbullah. udk 



http://duta.co/?p=9036

Tidak ada komentar:

Posting Komentar