Pengakuan Ini Harus Diamankan .
SURABAYA – Mengenang kembali peristiwa
bersejarah munculnya Resolusi Jihad, Museum Nahdlatul Ulama Sabtu
Malam (21/11) menggelar Napak tilas Resolusi Jihad yang dihadiri ratusan
warga Nahdliyin.
Resolusi yang didasari oleh Fatwa Jihad
KH Hasyim Asyari 70 tahun silam, tepatnya tanggal pada tanggal 21-22
Oktober 1945 terbukti dapat memberikan kontribusi besar bagi perjuangan
arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan Kota Surabaya dari serangan
Sekutu yang kemudian dikenal dengan 10 Nopevenber, Hari Pahlawan.
Kegiatan Napak Tilas ini hadiri sejumlah
tokoh NU, Sekda Provinsi Jatim dan ratusan warga nahdliyin yang
bertempat di halaman Museum Nahdlatul Ulama, Jalan Gayungsari, Surabaya.
Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengajak pada
seluruh lapisan masyarakat di Indonesia guna merevitalisasi semangat
Resolusi Jihad di era reformasi dengan bersama-sama
mengedepankan nilai-nilai kebangsaan.
“Revitalisasi jihad perlu dikobarkan kembali, misalnya dengan mendesak para penyelenggara
negara untuk meninjau kembali reformasi yang ternyata tidak
membikin ketatanegaraan kita semakin baik, tetapi justru sebaliknya
semakin buruk,“ tegas Dr Muhibbin Zuhri Direktur Museum Nahdlatul
Ulama Surabaya.
Selain itu, Muhibbin Zuhri yang juga menjabat Ketua PCNU Surabaya ini menambahkan bahwa
kegiatan tersebut untuk memunculkan kembali kesadaran terhadap peran
besar Resolusi Jihad di bulan Oktober dan November 1945 serta
berupaya untuk berpartisipasi dalam pelestarian nilai-nilai sejarah.
Sementara MH Rofiq, Ketua Yayasan Bina
Pemuda mengatakan, bahwa, peringatan Resolusi Jihad seperti ini memiliki
makna yang luar biasa. Menurut Cak Rofiq, pangilan akrabnya, peristiwa
10 November 1945, tidak bisa dipisahkan dengan resolusi jihad. “Sejarah
ini tidak boleh dilupakan. Selama ini Resolusi Jihad seakan terpenggal
dalam sejarah nasional,” kata mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ini.
Penulisan sejarah nasional selama ini,
juga dikritisi Dewan Kurator Museum NU, Drs H Choirul Anam. Menurut Cak
Anam, panggilan akbranya, selama ini pemerintah tidak pernah mencatat
atau mengakui resolusi jihad dan perjuangan para ulama NU. Baru pada era
pemerintahan Jokowi-JK ini, ada penetapan Hari Santri Nasional (HSN).
“(Pengakuan red.) ini harus kita pegang
dan kita simpan dalam Museum NU. Sebagaimana sambutan Gubernur Jawa
Timur yang dibacakan Pak Kardi (Sukardi, Sekdaprov red.) tadi, ini
merupakan pengakuan pemerintah,” kata Cak Anam yang dikenal sebagai
sejarawan NU.
Peringatan 70 Tahun Resolusi Jihad
kemarin, dimulai dengan pembacaan narasi sejarah Resolusi Jihad NU dan
dilanjutkan dengan orasi budaya yang menampilkan budayawan clurit
emas asal Madura, KHZawawi Imron dan Sejarawan Nahdlatul Ulama Drs.
H. Choirul Anam.
Selanjutnya hari Minggu pagi ini, (22/11/2015) akan dilakukan
Napak Tilas menuju Pondok Pesantren Tebuireng Jombang untuk
berziarah ke makam para pencetus Resolusi Jihad
yaitu KH Hasyim As’ary dan dan diteruskan ke Pondok
Pesantren Tambakberas, berziarah ke makam KH Wahab Chasbullah. udk
http://duta.co/?p=9036
http://duta.co/?p=9036


Tidak ada komentar:
Posting Komentar